![]() |
| Kegiatan sharing Komunitas Tawak Borneo bersama Finalis Bujang dan Dara Gawai Dayak Tahun 2025 |
sekadauterkini.com — Di tengah banyaknya komunitas yang menjadikan pendanaan sebagai motor utama pergerakan, Tawak Borneo justru memilih jalur berbeda. Komunitas ini lahir dan terus bergerak bukan karena dukungan dana besar, melainkan karena kesadaran bersama untuk menjaga, merawat, dan mempromosikan budaya serta wisata Borneo sebagai identitas dan warisan bernilai, Rabu (07/01/2026).
Tawak Borneo beraktivitas tanpa paksaan. Setiap individu yang tergabung hadir atas panggilan hati, bukan karena orientasi finansial. Tujuan utama komunitas ini bukanlah keuntungan materi, melainkan kepuasan batin—rasa bermakna karena terlibat langsung dalam pelestarian budaya dan penguatan jati diri Borneo.
Dalam menjalankan kegiatannya, Tawak Borneo mengandalkan dukungan internal anggota. Prinsip gotong royong menjadi fondasi utama, baik melalui kontribusi tenaga, waktu, gagasan, maupun sumber daya yang dimiliki masing-masing anggota. Dukungan dari pihak lain juga kerap hadir, namun bersifat sukarela dan tidak mengikat.
Pendiri Tawak Borneo, Vero Aprolonius, menegaskan bahwa komunitas ini tidak mengedepankan proposal pendanaan formal. “Kami lebih menawarkan konsep kegiatan. Ketika konsep itu dirasakan sejalan dan bermakna, dukungan akan hadir dengan sendirinya sebagai bentuk partisipasi yang tulus,” ujarnya.
Ia menambahkan, Tawak Borneo memahami bahwa tidak ada kewajiban bagi siapa pun untuk membantu. Dukungan yang datang merupakan pilihan sadar, lahir dari empati dan kepedulian terhadap pelestarian budaya serta promosi wisata.
Menurutnya, gerakan yang tumbuh dari kesadaran akan memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan gerakan yang digerakkan oleh kepentingan sesaat. Selama masih ada orang-orang yang percaya bahwa budaya adalah jati diri dan wisata merupakan ruang perjumpaan, Tawak Borneo akan terus bergerak secara konsisten. (ST)
