sekadauterkini.com – Masyarakat adat Suku Ketungau secara gotong royong memindahkan tangga peninggalan rumah panjang dari Amak Dalam menuju Seteleng Dusun Amak, Desa Sungai Kunyit, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Minggu (08/03/2026).
Pemindahan tangga tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap terjaga serta dapat dikenalkan kepada generasi muda.
Diketahui, tangga tersebut sebelumnya dipindahkan oleh masyarakat dari Amak Dalam ke Sungai Amak sekitar tahun 2000-an. Usia tangga tersebut tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan telah berumur lebih dari ratusan tahun. Berdasarkan penuturan para orang tua di Kampung Amak, sejak mereka lahir tangga tersebut memang sudah ada.
Kepala Adat Amak, Ibas, mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial tersebut. Ia menyebutkan bahwa tangga yang dipindahkan terdiri dari tangga semuluk (laki-laki) dan semilik (perempuan) yang merupakan bagian dari peninggalan rumah panjang masyarakat di Amak Dalam.
“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah bersama-sama memindahkan tangga ini ke Seteleng Amak sebagai upaya pelestarian peninggalan leluhur dan juga sebagai sarana pengenalan budaya kepada generasi muda,” ujarnya.
Sebelum proses pemindahan dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan ritual adat ngumpan tangga yang dipimpin oleh tokoh masyarakat Kampung Amak, Kakek Jamal. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta permohonan keselamatan selama proses pemindahan berlangsung.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari BPD Desa Sungai Kunyit, Kepala Dusun Amak, Pemimpin Umat, para tokoh masyarakat, serta masyarakat Dusun Amak yang secara bersama-sama terlibat dalam proses pemindahan tangga tersebut sebagai bentuk kebersamaan dalam menjaga warisan budaya.
Para tokoh masyarakat juga berpesan agar tangga peninggalan tersebut tidak dirusak, sehingga dapat tetap lestari dan bertahan lama sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat adat.
Founder Tawak Borneo, Vero Aprolonius, bersama Ketua Panitia HUT ke-10 Tawak Borneo, Donatus Asian, mengungkapkan bahwa mereka sebelumnya pernah mengunjungi tangga tersebut pada tahun 2023.
“Pada saat itu kami melihat langsung kondisi tangga tersebut. Setelah melalui diskusi panjang mengenai upaya pelestariannya, akhirnya hari ini pemindahan tangga tersebut dapat terealisasi,” ungkap Vero.
Ia berharap langkah pelestarian ini dapat menjadi contoh dan menginspirasi masyarakat di berbagai daerah agar semakin peduli terhadap peninggalan sejarah dan budaya leluhur.
“Semoga semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap peninggalan budaya di daerahnya masing-masing, sehingga warisan leluhur tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tutupnya. (ST)


