Ada mimpi yang lahir dengan sorak-sorai.
Ada juga mimpi yang lahir dalam diam.
Tawak Borneo lahir dari yang kedua.
Sebuah ruangan berukuran 3 meter x 3 meter—sempit, sederhana, jauh dari kata ideal. Namun di ruang kecil itulah, mimpi-mimpi besar pertama kali berani bernapas. Di sana saya belajar bahwa mimpi tidak membutuhkan tempat yang luas, melainkan hati yang berani dan tekad yang tidak mudah menyerah. Bahkan ruangan ini sendiri adalah mimpi yang dulu hanya bisa dibayangkan, lalu pelan-pelan diwujudkan menjadi nyata.
Sebagian besar hidup saya tertinggal di ruang ini. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi—semuanya pernah saya pertaruhkan. Ada hari-hari ketika keyakinan terasa begitu kuat, tapi ada juga malam-malam panjang yang dipenuhi ragu. Saya pernah lelah, pernah ingin berhenti, pernah bertanya pada diri sendiri: apakah semua ini layak diperjuangkan?
Namun setiap kali pertanyaan itu datang, Tawak Borneo selalu memberi jawaban dengan caranya sendiri. Saya masih ingat betul kalimat yang pernah saya ucapkan di awal perjalanan ini:
“Saya akan hidup dan dikenal orang melalui Tawak Borneo.”
Hari ini, setelah hampir sepuluh tahun berjalan, saya memahami makna kalimat itu dengan lebih dewasa. Bukan tentang dikenal, bukan tentang nama, apalagi tentang pujian. Tetapi tentang meninggalkan jejak. Tentang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Saya bukan pahlawan. Saya hanya seseorang yang memilih bertahan ketika jalan terasa sunyi. Melalui Tawak Borneo, saya dipertemukan dengan banyak orang—orang-orang hebat dari berbagai latar belakang. Mereka datang dengan cerita, luka, harapan, dan keyakinan yang sama: bahwa adat, budaya, spiritualitas, dan lingkungan layak diperjuangkan dengan sepenuh hati. Dari merekalah saya belajar bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata, tetapi dari langkah kecil yang konsisten.
Perjalanan menuju sepuluh tahun ini tidak selalu terang. Ada masa ketika langkah terasa berat, ketika hasil tidak sebanding dengan usaha, ketika kesalahpahaman datang dari orang-orang terdekat maupun yang tidak mengenal proses di balik layar. Namun justru di titik-titik itulah saya belajar tentang keteguhan—bahwa tidak semua hal harus dipahami orang lain, selama kita sendiri tahu alasan mengapa terus berjalan.
Dalam perjalanan panjang ini, saya berjumpa dengan banyak jiwa yang menguatkan saya, bahkan tanpa mereka sadari. Kehadiran mereka membuat saya merasa bahwa hidup ini berarti. Bahwa perjuangan ini tidak sia-sia. Bahwa setiap lelah yang pernah singgah, pernah ada tujuannya.
Kini, saat menoleh ke belakang—dari 15 Maret 2016 menuju 15 Maret 2026—saya tidak melihat kesempurnaan. Saya melihat proses. Saya melihat jatuh bangun. Saya melihat seseorang yang terus belajar menjadi manusia, sambil merawat mimpi agar tetap hidup. Dan semua itu bermula dari sebuah ruang kecil, yang diam-diam mengubah jalan hidup saya.
Sepuluh tahun ini bukan akhir. Ini adalah pengingat. Bahwa selama masih ada mimpi yang dijaga dengan kejujuran dan kerja, Tawak Borneo akan terus hidup—bukan hanya sebagai gerakan, tetapi sebagai perjalanan jiwa.
Vero Aprolonius | Founder Tawak Borneo
