Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Menjadi Baik, Terlihat Baik, atau Pura-Pura Baik: Soal Sudut Pandang dan Tujuan

07/02/2026 | 21:35 WIB Last Updated 2026-02-07T14:35:46Z

 


Di tengah kehidupan sosial modern, batas antara menjadi baik, terlihat baik, dan pura-pura baik semakin kabur. Layar kaca—entah itu media sosial, televisi, atau platform digital lainnya—menyuguhkan potret kehidupan yang tampak rapi, bahagia, dan sempurna. Perlahan tapi pasti, potret-potret itu berubah menjadi standar hidup sosial: bagaimana seharusnya kita berpikir, bersikap, bahkan merasa.


Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari realitas yang jauh lebih kompleks. Ia bisa dipilih, disaring, diedit, bahkan dimanipulasi sedemikian rupa untuk menyenangkan penonton. Senyum bisa direkam tanpa cerita di baliknya. Kepedulian bisa diposting tanpa kehadiran nyata. Kebaikan pun bisa dikemas sebagai konten, bukan sebagai nilai.


Di titik inilah pertanyaan penting muncul: apakah seseorang benar-benar baik, atau hanya ingin terlihat baik? Atau lebih jauh lagi, apakah kebaikan itu sekadar alat untuk mencapai tujuan tertentu—popularitas, pengakuan, atau penerimaan sosial?


Menjadi baik sejatinya adalah proses sunyi. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu mendapat tepuk tangan, dan sering kali tidak terdokumentasi. Kebaikan hadir dalam keputusan kecil, konsistensi sikap, dan keberanian untuk tetap benar meski tidak disaksikan siapa pun. Sebaliknya, terlihat baik sangat bergantung pada sudut pandang orang lain. Ia membutuhkan panggung, sorotan, dan validasi. Sementara pura-pura baik lahir dari tujuan yang lebih pragmatis: citra, keuntungan, atau kepentingan sesaat.


Masalahnya, kehidupan sosial hari ini sering kali lebih menghargai tampilan daripada kedalaman. Apa yang viral dianggap bermakna, apa yang ramai dianggap benar. Akibatnya, banyak orang lelah mempertahankan citra, takut terlihat gagal, dan enggan jujur pada dirinya sendiri. Kita lupa bahwa hidup bukanlah etalase, melainkan perjalanan.


Kebaikan yang tulus tidak lahir dari sudut kamera, tetapi dari kesadaran. Ia tidak sibuk meyakinkan orang lain, karena ia tahu tujuannya. Dalam dunia yang gemar menilai dari permukaan, mungkin menjadi baik tanpa harus terlihat baik adalah bentuk kejujuran paling radikal hari ini.


Pada akhirnya, menjadi baik, terlihat baik, atau pura-pura baik memang soal sudut pandang dan tujuan. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: untuk siapa kebaikan itu dilakukan—untuk sesama, atau sekadar untuk penonton?


Vero Aprolonius | Founder Tawak Borneo

×
Berita Terbaru Update