Dalam kehidupan sosial, memahami sebuah peristiwa tidak cukup hanya dengan mendengar cerita. Kita perlu datang, melihat langsung, mengamati dengan jernih, lalu mempelajarinya secara utuh. Dari proses itulah seseorang benar-benar bisa memahami dan menguasai situasi yang sedang berlangsung.
Hal yang paling berbahaya dalam kehidupan sosial adalah kata “katanya”. Informasi yang kita terima sering kali datang dari satu sudut pandang saja. Sudut pandang ini, tanpa kita sadari, dapat menutupi sisi lain yang tidak terlihat atau sengaja tidak diperlihatkan. Lebih berbahaya lagi, ketika kita hanya ingin mendengar apa yang sesuai dengan perasaan, keyakinan, atau kepentingan kita, lalu dengan cepat menarik kesimpulan tanpa memberi ruang bagi pandangan lain yang tertutup.
Dalam kondisi seperti itu, kebenaran menjadi sempit. Apa yang kita yakini sebagai kebenaran sejati bisa jadi hanyalah potongan kecil dari realitas yang jauh lebih luas. Kita merasa sudah tahu segalanya, padahal yang kita pahami baru sebagian, bahkan mungkin telah dibingkai oleh kepentingan tertentu.
Kehidupan sosial menuntut kedewasaan berpikir. Ia meminta kita untuk bersabar dalam menilai, rendah hati dalam memahami, dan berani membuka diri terhadap perbedaan sudut pandang. Dengan mengamati langsung, berdialog, dan belajar dari berbagai sisi, kita memberi kesempatan pada kebenaran untuk hadir secara lebih jujur.
Inilah pelajaran penting dalam kehidupan: kebenaran tidak selalu berteriak, sering kali ia tersembunyi di balik suara-suara yang lebih keras. Tugas kita bukan sekadar memilih cerita yang ingin kita dengar, tetapi berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya.
Karena pada akhirnya, inilah cerita kehidupan—penuh lapisan, penuh perspektif, dan menuntut kebijaksanaan untuk memahaminya.
Vero Aprolonius | Founder Tawak Borneo
