sekadauterkini.com— Musyawarah Besar (MUBES) Paguyuban Menyanak Sekujam Kayu Bayan Kabupaten Sekadau berhasil dilaksanakan secara sukses, tertib, dan penuh semangat kebersamaan, Sabtu (5/9/2026), di Aula Desa Engkersik.
MUBES tersebut tidak sekadar menjadi momentum pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi ruang strategis bagi masyarakat Sekujam untuk meneguhkan kembali identitas, adat istiadat, sejarah, dan kebudayaan sebagai bagian penting dari kekayaan peradaban Dayak di Kabupaten Sekadau.
Salah satu keputusan fundamental dalam MUBES adalah disahkannya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Paguyuban Menyanak Sekujam Kayu Bayan Kabupaten Sekadau. Dengan adanya AD/ART tersebut, organisasi memiliki landasan normatif yang lebih jelas dalam menjalankan roda paguyuban, memperkuat konsolidasi, serta menyusun berbagai program yang menyentuh kepentingan masyarakat Sekujam.
Forum juga menetapkan kepengurusan baru Paguyuban Menyanak Sekujam Kayu Bayan Kabupaten Sekadau periode 2026–2031. Bernadus Mohtar, S.Pd dipercaya sebagai Ketua, Yohanes Kusnadi, S.S sebagai Sekretaris, dan Silvanus Seyron sebagai Bendahara.
Kepengurusan baru tersebut diharapkan mampu menjalankan organisasi secara kolektif, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan masyarakat Sekujam.
MUBES turut dihadiri Kepala Desa Engkersik Sukardiyanto, Kepala Adat (Kadat) Engkersik Hamengkubono, para tokoh masyarakat Sekujam, kepala dusun, perangkat desa, serta sejumlah elemen masyarakat lainnya.
Saat membuka MUBES, Kepala Desa Engkersik Sukardiyanto menegaskan pentingnya musyawarah sebagai wadah untuk menyatukan persepsi dan membangun kesepahaman bersama.
Menurutnya, keberadaan paguyuban tidak boleh berhenti pada urusan administratif atau sekadar memiliki struktur kepengurusan yang tertata di atas kertas. Paguyuban harus menjadi ruang bersama untuk menggali, merawat, dan mengembangkan kekayaan sejarah, adat istiadat, serta kebudayaan Sekujam.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena masyarakat Sub-Suku Dayak Sekujam akan mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Gawai Dayak Kabupaten Sekadau Tahun 2027.
Gawai Dayak 2027 diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum historis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sekujam secara bermartabat kepada masyarakat luas.
Karena itu, persiapan tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun panggung yang megah. Masyarakat Sekujam juga perlu menyiapkan narasi kebudayaan yang kuat. Budaya yang hanya dipajang tanpa dipahami berisiko berubah menjadi sekadar dekorasi, sementara adat yang hanya ditampilkan tanpa diwariskan perlahan dapat kehilangan makna.
MUBES berlangsung lancar di bawah kepemimpinan Yohanes Kusnadi sebagai Ketua Panitia. Ia didampingi Yulius Kunang dan Leo Endao sebagai sekretaris serta Silvanus Seyron sebagai bendahara panitia.
Seluruh rangkaian persidangan berlangsung tertib dan konstruktif. Kelengkapan sidang terdiri atas Leo Endaosebagai Pemimpin Sidang I, Yulius Kunang sebagai Pemimpin Sidang II, dan Antonius Payau sebagai Pemimpin Sidang III.
Berbagai pandangan yang muncul dalam forum dapat dikelola melalui semangat musyawarah dan kekeluargaan. Pada akhirnya, peserta berhasil mencapai kesepakatan atas sejumlah keputusan penting, terutama pengesahan AD/ART dan pembentukan kepengurusan baru.
Keberhasilan MUBES sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat Sekujam memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun organisasi secara lebih modern tanpa kehilangan akar tradisinya.
Namun, tantangan terbesar justru dimulai setelah MUBES ditutup.
Struktur organisasi yang baru terbentuk diharapkan tidak hanya menjadi daftar nama yang tercetak dalam baliho. Demikian pula AD/ART tidak boleh berhenti sebagai dokumen yang tersimpan rapi, sementara persoalan adat, sejarah, budaya, generasi muda, pendidikan, ekonomi, dan masa depan masyarakat berjalan tanpa arah.
Organisasi yang besar bukan semata-mata karena panjangnya susunan kepengurusan, melainkan karena besarnya karya dan manfaat yang mampu ditinggalkan.
Karena itu, semangat MUBES perlu diterjemahkan ke dalam kerja nyata. Penggalian sejarah Sekujam, dokumentasi adat istiadat, revitalisasi kearifan lokal, pendidikan budaya bagi generasi muda, penguatan kelembagaan adat, hingga persiapan Gawai Dayak 2027 harus menjadi agenda bersama.
Sekujam memiliki alasan untuk berdiri tegak dengan percaya diri. Kekayaan sejarah, adat istiadat, tradisi, bahasa, kearifan lokal, dan identitas budaya merupakan warisan yang tumbuh dari perjalanan panjang para leluhur dan diwariskan lintas generasi.
Tugas generasi sekarang bukan sekadar membanggakan warisan tersebut, tetapi membuktikan bahwa warisan itu masih hidup, relevan, dan mampu menjadi energi bagi masa depan.
Dengan demikian, MUBES Paguyuban Menyanak Sekujam Kayu Bayan Kabupaten Sekadau bukan sekadar tentang siapa yang menjadi ketua, sekretaris, atau bendahara. Lebih dari itu, MUBES menjadi pernyataan bersama bahwa masyarakat Sekujam ingin berbenah, bersatu, dan bergerak.
Ketika Gawai Dayak 2027 kelak digelar di tanah Sekujam, yang diharapkan tampil bukan hanya kemeriahan sebuah pesta budaya, melainkan wajah sebuah komunitas yang mengenal sejarahnya, menghormati adatnya, memahami identitasnya, dan percaya diri menyongsong masa depan.
Sekujam tidak cukup hanya dikenal karena memiliki budaya. Sekujam harus dikenal karena mampu menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kebudayaannya dengan gemilang.
Salam Budaya.
Oleh: Yohanes Kusnadi, S.S. Sekretaris Terpilih Paguyuban Menyanak Sekujam Kayu Bayan Kabupaten Sekadau
